by

Louhenapessy : Masyarakat Dihimbau Tetap Tenang Soal Ikan Mati

AMBON,N25NEWS.COM – Walikota Ambon, Richard Louhenapessy menghimbau kepada seluruh masyarakat yang ada di kota Ambon untuk tetap tenang dan berpatokan pada informasi dari sumber terpercaya terkait fenomena mati ikan secara massal di beberapa lokasi yang ada di Ambon.

“Saya menghimbau kepada masyarakat tidak terpancing dan yang gunakan medsos untuk hati-hati, selalu dapatkan informasi dari sumber yang terpercaya,” ujarnya dalam konfrensi pers yang berlangsung di Ruang Kerjanya, Senin (16/9).

Pasalnya, dengan fenomena tersebut banyak masyarakat yang mengaitkan peristiwa tersebut sebagai salah satu gejala akan terjadinya tsunami. Untuk itu, Ia meminta kepada masyarakat untuk selalu tenang karena pihaknya akan berkoordinasi untuk melihat penyebab dari matinya ikan tersebut.

Dan pihaknya juga akan turun langsung ke masyarakat untuk memberikan ketenangan sehingga masyarakat tidak panik dengan adanya kejadian langka tersebut.

“Kita pemkot turun ke masyarakat untuk berikan keyakinan kita serius untuk tangani masalah ini,” tutur dia.

Menurutnya, fenomena ikan yang mati tersebut sudah terjadi sejak Sabtu (14/9) dan pada saaat tersebut masyarakat yang ada di kecamatan Leitimur Selatan sempat mendengar adanya bunyi ledakan di laut.

Dan setelah itu, banyak ikan yang terdampar di pesisir dan masyarakat yang ada pada saat tersebut mengambil ikan yang terdampar tersebut dan mengkonsumsinya. Namun, karena keesokan harinya banyak ikan yang terdampar masyarakat menjadi waspada.

“Fenomena di pesisir letisel dan dampak sampai ke nusaniwe dan baguala tulehu waai terkait peristiwa ikan mati di pantai pesisir hari sabtu sore dapat laporan dari masyarakat leitisel banyak ikan mati tidak tahu penyebab siang hari dengar ledakan besar dari laut tapi tidak dihiraukan sore lihat banyak ikan yang mati jenis ikan dasar laut, sampai hari ini menyebar di beberapa titik latuhalat seri dan lain-lain,” tambah dia.

Dan untuk itu, instansi terkait telah turun ke lokasi untuk memastikan yang terjadi sebenarnya, karena diperkirakan bom ikan tidak akan mampu membuat ikan mati begitu banyak dan terdampar hampir satu kecamatan bahkan sudah merambat ke kecamatan Nusaniwe.

“Sabtu malam saya instruksikan kepada kepala dinas perikanan dan satpol pp untuk ke lapangan dan memang kedapatan ikan banyak yang mati, info ada ledakan tapi tidak tahu apa yang meledak jika gunakan bom ikan akan mabuk di radius terbatas tapi ini melebar,” terang dia.

Ia menyimpulkan untuk sementara ledakan terjadi karena perputaran arus di dasar laut yang besar hingga menyentuh bom perang dunia II yang ada di dalam laut.

“Kesimpulan awal ledakan awal bekas bom Perang Dunia 2 atau ledakan lain tidak tahu tapi sudah laporkan dengan lembaga riset perikanan yang sudah turun ambil sampel untuk penelitian,” simpulnya.

Selain itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan, lanjutnya, seluruh ikan yang mati tersebut mengalami patah tulang yang serius dan pendarahan.

“Ada ikan yang masih segar bawa ke lab fakultas perikanan hasil sementara balai karantina didapat seluruh ikan yang mati di punggung ada keretarakan serius dan pendarahan serius hampir seluruh akibat getaran yang cukup kuat penyebabnya, Balai Karantina akan selam untuk lihat kondisi terumbu karang akan diteliti lebih lanjut,” jelasnya.

Ikan yang mati tersebut tidak boleh lagi dikonsumsi oleh masyarakat, sehingga pihaknya akan turun untuk membersihkan ikan yang terdampar tersebut dan menguburnya.

“Sabtu itu masyarakat konsumsi tidak masalah tapi jumlah banyak khawatir keracunan, saya sudah instruksikan camat untuk tanam ikan yang mati supaya tidak jadi wabah. Dan besok juga kita akan turun dengan speed untuk angkat jika ada ikan yang mati,” ungkap dia.

Lanjutnya, BPBD kota Ambon juga akan melakukan koordinasi dengan BMKG utnuk memastikan gejala apa yang akan terjadi sehingga dapat memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat.

“Pemkot dari BPBD koordinasi dengan BMKG apa ada gejala atau tidak untuk antisipasi.
Ada fenomena kristal biru sudah diambil untuk diteliti, kita juga sudah Surati BNPB juga untuk antisipasi,” katanya.

Sementara itu, Rory Dompeipen, Humas LIPI mengungkapkan, saat ini pihaknya sementara melakukan analisis terhadap penyebab matinya ikan-ikan tersebut dan fenomena ikan mati secara massal di beberapa lokasi tersebut merupakan fenomena yang langka.

“Jadi kita sementara melakukan analisis, apa penyebab ikan mati, karena ini merupakan fenomena baru jadi kami masih harus mengumpulkan semua sampel, hasilnya paling lambat dua hari sudah bisa kita dapatkan. Dan kami menilai ini merupakan fenomena yang langka karena bukan satu lokasi tapi beberapa lokasi mengalami hal yang sama” tutur dia.

Sedangkan, Ashari Syarief, Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu ketika dikonfirmasi mengungkapkan, sampel ikan yang diambil oleh pihaknya masih di teliti karena masih ada beberapa hal yang harus di cek lagi.

“Baru kemarin kita ambil sampel juga tapi belum ada hasilnya karena kalau kita ambil dari satu sisi dan salah satu penyebabnya belum bisa mewakili keseluruhan penyebab utamanya.
Jadi laporannya biasa jadi dari satu sisi sudah ada yang kita berikan tapi kita harus lihat ikan itu bermasalah karena tidak mungkin dengn sendirinya dengan satu faktor yang tidak dominan jadi kita mau lihat faktor dominannya apa lagi setelah itu yang mempengaruhi ikan itu mati. Yang pasti banyak hal yang akan kita cek yang pasti pertama kita cek kondisi ikannya itu sendiri,” tambahnya.

Ia melanjutkan, untuk lebih memastikan data hasil uji, pihaknya juga akan bekerjasama dengan LIPI untuk hal tersebut sehingga hasil yang diperoleh lebih tepat.

“Kita belum bisa memastikan, kita akan gabungkan data dengan data LIPI karena data LIPI akan mengambil sendimentasinya akan dilihat makanya harus komperhensif.
Baru kita bisa memberikan keterangan faktor penyebabnya,” tutup dia.

Reporter : Mendy S

Editor : Redaksi

Comment

Direkomendasi